Sabtu, 13 Desember 2008

BAGAIMANA NASIB KITA MENDATANG?


Lumpur Lapindo Tidak Dapat Ditutup, Kata Geolog Internasional

22/10/08 18:04
Lumpur Lapindo Tidak Dapat Ditutup, Kata Geolog Internasional
Jakarta (ANTARA News) - Para geolog internasional sepakat bahwa semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur adalah “mud volcano” yang merupakan produk remobilisasi sedimen dan aliran fluida di wilayah cekungan bumi yang lemah, karena itu semburan itu tidak bisa ditutup.

Untuk itu, harus segera ada kerja sama dan saling berbagi data agar penyimpulan pemicu semburan lumpur itu menjadi benar, kata Dr. Christopher Jackson, geolog dari Imperial College London, seperti dikutip siaran pers Lapindo Brantas Inc di Jakarta, Rabu.

Kesepakatan itu muncul dalam konferensi bertema “Subsurface Sediment Remobilization And Fluid Flow in Sedimentary Basins” yang diselenggarakan The Geological Society di London, Inggris, Rabu.

Dalam siaran pers itu dikatakan, selama ini, beberapa geolog internasional seperti Richard Davies dari University of Durham, Inggris, Mark Tingay dari University of Adelaide, Australia, dan Michael Manga dari University of California, Berkeley, AS, menyimpulkan bahwa semburan lumpur itu dipicu oleh kegiatan pengeboran sumur Banjar Panji I (BJP I) milik Lapindo Brantas Inc.

Davies juga yakin bahwa lumpur itu adalah sebuah “mud volcano” yang merupakan hasil remobilisasi sedimentasi laut jutaan tahun lalu.

Dalam konferensi tersebut, geolog PT Energi Mega Persada, Bambang Istadi, yang menjadi pembicara asal Indonesia, menegaskan bahwa semburan lumpur itu bukan disebabkan oleh “underground blowout”.

“Ini berdasarkan empat fakta yang ada pada data autentik yang dimiliki Lapindo,” kata Bambang.

Menurut Bambang, data rekaman tes temperatur dan sonan selama 50 hari terhadap sumur BJP I menunjukan hasil menolak fenomena “blowout”. Analisa suhu pada kedalaman 9000 kaki sumur adalah 140 derajat F, sedangkan suhu fluida di atas permukaan justru 200 derajat F.

“Ini membuktikan bahwa sumur tidak terkoneksi dengan lumpur yang menyembur. Juga berdasarkan tes sonan tidak ada suara bising di dalam sumur,” jelas Bambang.

Fakta-fakta berikut yang diungkapkan Bambang adalah tidak ada luberan, gas, “steam” (uap air), ataupun lumpur yang keluar dari sumur BJP ketika dibuka. Kemudian, melalui proses “re-entry” diketahui bahwa mata bor tidak jatuh, walau semburan yang berjarak 200 meter dari sumut BJP I, itu sudah berlangsung satu setengah bulan.

“Bila terjadi underground blowout, pasti mata bor itu jatuh karena material lumpur yang keluar sudah jutaan ton,” ungkap Bambang seeprti dikutip siaran pers itu.

Fakta lain yang diungkap Bambang adalah tidak ditemukan “systhetic oil based drilling” dalam tes diberbagai titik survei semburan.

“Semua fakta menunjukkan sumur BJP I masih sehat dan tidak terkoneksi dengan semburan,” jelasnya.

Sementara itu, Richard Davies, yang juga menjadi penyelenggara konferensi tersebut, mengaku terkejut atas temuan itu. Dia langsung merespons dengan menyediakan diri bekerja sama dengan pihak Lapindo Brantas.

“Saya baru pertama kali ini bertemu dengan Bambang Istadi, ya di London ini,” ucapnya.

Perdebatan teknis antar geolog dunia mengenai semburan lumpur itu akan berlanjut pada konferensi internasional di Cape Town, Afrika Selatan, pada 26 - 29 Oktober 2008, yang diselenggarakan American Association of Petroleum Geologists (AAPG).(*)

PUNK not DEAD

 Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda sendiri dibandingkan dengan komunitas pada umumnya. Banyak orang yang menilai bahwa komunitas yang satu ini termasuk salah satu komuitas yang urakan, berandalan dan sebagainya. Namun jika dicermati lebih dalam banyak sekali yang menarik yang dapat Anda lihat di komunitas ini. Punk sendiri terbagi menjadi beberapa komunitas-komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri, terkadang antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain juga sering terlibat masalah. Walaupun begitu mungkin beberapa komunitas Punk di bawah ini dapat mempengaruhi kehidupan Anda sehari-hari.

Punk Community
Anarcho Punk
Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya.
Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk.

Crust Punk
Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja.

Glam Punk
Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya.

Hard Core Punk
Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah.

Nazi Punk
Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.

The Oi
The Oi atau Street Punk ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk.

Queer Core
Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang “sakit”, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orang-orang “sakit”, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985.

Riot Grrrl
Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC.

Scum Punk
Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri.

The Skate Punk
Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing.

Ska Punk
Ska Pun merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.

Punk Fashion
Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orangorang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan.

Gaya para punkers tersebut nampaknya semakin marak dikenakan akhir-akhir ini, jika begitu mungkin Anda setuju dengan ungkapan PUNK NOT DEAD.!!

Selasa, 09 Desember 2008

PENINDASAN



“Bersekolah itu sama artinya menikmati penindasan!”. Ujaran pedas ini bukan diungkap oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang kondang dengan buku “Pendidikan Bagi Kaum Tertindas” itu. Bukan pula datang dari mulut para pakar kurikulum pendidikan di tanah air, apalagi menteri pendidikan, melainkan dari seorang mantan pengelola serikat tani di Salatiga. Ia, Bahruddin namanya, adalah lulusan sekolah tinggi agama di Semarang. Dan ia merasa pernah menjadi salah seorang korban penindasan.

Apanya sih yang menindas dari sekolah? Barangkali pertanyaan itu yang memberontak di pikiran kita. Sekolah kan asik-asik saja. Nongkrong, pacaran, nge-band, sesekali kelahi, nyontek, ngerjain guru atau dosen. Everything’s so fun. Lantas, sekali lagi, apanya yang menindas? Kalau pertanyaan ini ditujukan ke Bahruddin, maka ia punya jawaban tegas: sistemnya!

What system? Sistem yang kayak apa? O ho, ternyata sistem pengajaran yang membuat para siswa menjadi tukang hapal. Sistem transfer pengetahuan yang sepihak. Sistem evaluasi yang menempatkan guru sebagai satu-satunya otoritas kebenaran. Sistem pengelolaan biaya tinggi yang memapas kemungkinan orang miskin mendapat pendidikan yang berkualitas. Itu beberapa diantaranya.

Berangkat dari kesadaran itu, Bahruddin pun menyiapkan perangkat perlawanan. Bukan dengan kelebat kelewang, tidak juga letus senapan. Alih-alih dia membangun sebuah SLTP alternatif di tanah kelahirannya, Desa Kalibening, sekitar 6 kilometer arah timur kota Salatiga. Diberinya nama Qaryah Thoyyibah, yang artinya “desa yang permai”, mengikut nama serikat tani yang pernah dikelolanya. Kelas pertama dimulai tahun 2003 dengan hanya 12 murid dari Kalibening, termasuk Hilmi, anak pertamanya.

Melawan sekolah kok dengan sekolah? Jika muncul pertanyaan serupa itu, begini jawabannya: Qaryah Thoyibbah (QT) dikelola dengan cara berbeda. Dengan pemikiran bahwa yang kesalahan terbesar dari insitusi sekolah adalah sistem pengelolaan dan pengajarannya, Bahruddin dan pengelola lainnya mengintrodusir pendekatan baru dalam proses ajar-mengajar dan pengelolaannya. Salah satu terobosan orisinilnya adalah dengan memanfaatkan rumah tinggal sebagai sekolah dan mengisi ruang kelas dengan sejumlah komputer yang terhubung dengan internet 24 jam !

Gedung sekolah yang memanfaatkan sebagian dari bangunan rumah Bahruddin, juga bekas kantor serikat tani, terletak di tengah pemukiman berdekatan dengan rumah para siswa sehingga mereka tak perlu mengeluarkan biaya transport. Pengelola melengkapi siswanya dengan gitar dan kamus bahasa Inggris serta memberi kesempatan siswanya untuk menyicil pembelian komputer. Untuk semua itu, orang tua siswa hanya “dibebani” iuran bulanan Rp 20.000 plus uang saku harian Rp 3000. Jumlah ini pun ditentukan berdasar kesepakatan bersama antara pengelola sekolah dan orang tua siswa.

Setiap hari, Senin sampai Sabtu, QT memulai aktifitasnya sejak pukul 6 pagi dengan Coffee Morning, sebuah kelas wicara dalam bahasa Inggris. Jam 7 mereka berhenti untuk sarapan pagi di rumah salah seorang penduduk yang dipesan untuk menyediakan makan pagi secara bergilir. Cara ini dilakukan untuk mendekatkan siswa QT dengan orang-orang di lingkungan mereka. Jam-jam berikutnya adalah petualangan pengetahuan. Para guru di QT, yang mengajar dengan sukarela, diposisikan bukan sebagai pengajar melainkan fasilitator. Pengetahuan bukan ditransfer, melainkan dicari dan didiskusikan bersama. Dalam evaluasi, pemahaman lebih diutamakan dibanding kemampuan menghapal. Dalam proses pembelajaran, kepercayaan diri, kegairahan dan kegembiraan belajar yang ditumbuhkan. Bukannya bentakan merendahkan, dikte dan tekanan.

Hasilnya, siswa-siswa SLTP QT menduduki ranking teratas di Salatiga. Bahasa Inggris mereka cas cis cus. Musik pada lumayan jago, bahkan mereka telah menghasilakn beberapa kaset rekaman dan video musik kompilasi lagu-lagu daerah yang juga menampilkan Bupati Semarang. Menurut penelitian seorang pakar IT dari Jepang, optimalisasi pemakaian internet untuk pendidikan di QT termasuk tujuh terbaik di dunia. Yang menarik, meski telah berwawasan global para siswa tidak tercerabut dari lingkungannya.

Bahruddin, bersama banyak pihak yang mendukung gerak dan pemikirannya, telah membuktikan bahwa perbaikan sistemlah yang akan menyehatkan institusi sekolah, bukannya gonta-ganti menteri, kurikulum apalagi warna sepatu! Mungkin QT inilah jawaban dari kekuatiran terjerumusnya pendidikan Indonesia pada, meminjam istilah ahli pendidikan Jerman Kurt Singer, praktek pedagogi hitam: pendidikan sekolah yang membuat siswa tertekan, tertindas dan kehilangan kepercayaan diri untuk belajar! Selamat belajar dari Salatiga…

enindasan!

26Aug06

“Bersekolah itu sama artinya menikmati penindasan!”. Ujaran pedas ini bukan diungkap oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang kondang dengan buku “Pendidikan Bagi Kaum Tertindas” itu. Bukan pula datang dari mulut para pakar kurikulum pendidikan di tanah air, apalagi menteri pendidikan, melainkan dari seorang mantan pengelola serikat tani di Salatiga. Ia, Bahruddin namanya, adalah lulusan sekolah tinggi agama di Semarang. Dan ia merasa pernah menjadi salah seorang korban penindasan.

Apanya sih yang menindas dari sekolah? Barangkali pertanyaan itu yang memberontak di pikiran kita. Sekolah kan asik-asik saja. Nongkrong, pacaran, nge-band, sesekali kelahi, nyontek, ngerjain guru atau dosen. Everything’s so fun. Lantas, sekali lagi, apanya yang menindas? Kalau pertanyaan ini ditujukan ke Bahruddin, maka ia punya jawaban tegas: sistemnya!

What system? Sistem yang kayak apa? O ho, ternyata sistem pengajaran yang membuat para siswa menjadi tukang hapal. Sistem transfer pengetahuan yang sepihak. Sistem evaluasi yang menempatkan guru sebagai satu-satunya otoritas kebenaran. Sistem pengelolaan biaya tinggi yang memapas kemungkinan orang miskin mendapat pendidikan yang berkualitas. Itu beberapa diantaranya.

Berangkat dari kesadaran itu, Bahruddin pun menyiapkan perangkat perlawanan. Bukan dengan kelebat kelewang, tidak juga letus senapan. Alih-alih dia membangun sebuah SLTP alternatif di tanah kelahirannya, Desa Kalibening, sekitar 6 kilometer arah timur kota Salatiga. Diberinya nama Qaryah Thoyyibah, yang artinya “desa yang permai”, mengikut nama serikat tani yang pernah dikelolanya. Kelas pertama dimulai tahun 2003 dengan hanya 12 murid dari Kalibening, termasuk Hilmi, anak pertamanya.

Melawan sekolah kok dengan sekolah? Jika muncul pertanyaan serupa itu, begini jawabannya: Qaryah Thoyibbah (QT) dikelola dengan cara berbeda. Dengan pemikiran bahwa yang kesalahan terbesar dari insitusi sekolah adalah sistem pengelolaan dan pengajarannya, Bahruddin dan pengelola lainnya mengintrodusir pendekatan baru dalam proses ajar-mengajar dan pengelolaannya. Salah satu terobosan orisinilnya adalah dengan memanfaatkan rumah tinggal sebagai sekolah dan mengisi ruang kelas dengan sejumlah komputer yang terhubung dengan internet 24 jam !

Gedung sekolah yang memanfaatkan sebagian dari bangunan rumah Bahruddin, juga bekas kantor serikat tani, terletak di tengah pemukiman berdekatan dengan rumah para siswa sehingga mereka tak perlu mengeluarkan biaya transport. Pengelola melengkapi siswanya dengan gitar dan kamus bahasa Inggris serta memberi kesempatan siswanya untuk menyicil pembelian komputer. Untuk semua itu, orang tua siswa hanya “dibebani” iuran bulanan Rp 20.000 plus uang saku harian Rp 3000. Jumlah ini pun ditentukan berdasar kesepakatan bersama antara pengelola sekolah dan orang tua siswa.

Setiap hari, Senin sampai Sabtu, QT memulai aktifitasnya sejak pukul 6 pagi dengan Coffee Morning, sebuah kelas wicara dalam bahasa Inggris. Jam 7 mereka berhenti untuk sarapan pagi di rumah salah seorang penduduk yang dipesan untuk menyediakan makan pagi secara bergilir. Cara ini dilakukan untuk mendekatkan siswa QT dengan orang-orang di lingkungan mereka. Jam-jam berikutnya adalah petualangan pengetahuan. Para guru di QT, yang mengajar dengan sukarela, diposisikan bukan sebagai pengajar melainkan fasilitator. Pengetahuan bukan ditransfer, melainkan dicari dan didiskusikan bersama. Dalam evaluasi, pemahaman lebih diutamakan dibanding kemampuan menghapal. Dalam proses pembelajaran, kepercayaan diri, kegairahan dan kegembiraan belajar yang ditumbuhkan. Bukannya bentakan merendahkan, dikte dan tekanan.

Hasilnya, siswa-siswa SLTP QT menduduki ranking teratas di Salatiga. Bahasa Inggris mereka cas cis cus. Musik pada lumayan jago, bahkan mereka telah menghasilakn beberapa kaset rekaman dan video musik kompilasi lagu-lagu daerah yang juga menampilkan Bupati Semarang. Menurut penelitian seorang pakar IT dari Jepang, optimalisasi pemakaian internet untuk pendidikan di QT termasuk tujuh terbaik di dunia. Yang menarik, meski telah berwawasan global para siswa tidak tercerabut dari lingkungannya.

Bahruddin, bersama banyak pihak yang mendukung gerak dan pemikirannya, telah membuktikan bahwa perbaikan sistemlah yang akan menyehatkan institusi sekolah, bukannya gonta-ganti menteri, kurikulum apalagi warna sepatu! Mungkin QT inilah jawaban dari kekuatiran terjerumusnya pendidikan Indonesia pada, meminjam istilah ahli pendidikan Jerman Kurt Singer, praktek pedagogi hitam: pendidikan sekolah yang membuat siswa tertekan, tertindas dan kehilangan kepercayaan diri untuk belajar! Selamat belajar dari Salatiga…